Kadangkala saya merasa tidak perlu mendetilkan sesuatu karena "kalimat itu sudah utuh" untuk menjelaskan maknanya. Seperti penjelasan tersembunyi gitu. Bukan sastra yah 😅 dimana makna hanya penulis yang tahu.
Misalkan saya hanya menyebutkan nama buku tanpa penulisnya. karena memang itu tidak di butuhkan banyak orang untuk mengetahuinya. Tapi kalau ada yang penasaran, dia bisa bertanya. Nah kesempatan juga kan untuk saling mencairkan suasana
Tapi saya juga sering mendetilkan sesuatu karena memang di butuhkan agar tidak salah di mengerti. Misalkan teman yang ingin berkunjung ke kosan. Saya bahkan mendetilkan "bangunan" apa saja yang akan dia temui sepanjang perjalanan.
Ada banyak perbedaan berpikir masalah praktis. Kalau saya sendiri mah terserah, yang penting semua orang 'mau' paham.
Ada orang diluar sana yang mesti berurut sesuai abjad pendeskripsian. Kebalikan dari saya. Dan saya respect. Karena saya tau, cara berpikir saya yang ingin 'serba simple' ini kadang menggangu orang-orang seperti mereka 😅 maapkeun
Ya gimana yah, untuk menghitung halaman misalnya. Saya tidak perlu buka lembar perlembar. Saya hanya perlu melihat start awal hingga akhir yang di baca. Setelah itu Tuliskan! Kalau ada yang ingin bertanya jumlah nominal, ya kurangkan saja 😃
Dulu untuk hal remeh temeh begini saya suka ngegas. Tapi sekarang, kalem aja. Kalau dia meminta, ya jelaskan. Kalau dia enggan, mudah2an dia paham.
Nah kalau di dalam dakwah menghadapi pola berpikir yang beda. Shantay aja, biasa itu mah. Gak perlu baper. Saya aja nih, pernah bolak balik hanya disuruh untuk memastikan 'barang' yang sebenarnya bisa dipastikan di hari-H. Karena memang itu basecamp penyimpanan barang yang tertata rapih dan punya ruangan khusus.
Tapi ya gitu, ada orang yang punya cara berpikir yang beda dengan kita. Legowo aja. Apalagi untuk dakwah. Kalau ide kita ditolak, terima aja. Gak perlu ngegas. Kalau dua2nya ngegas lantas dakwahnya bisa bablas 😂
Gitulah yah....
Sekian
Komentar
Posting Komentar