Langsung ke konten utama

Persaudaraan kaum muslim

Dia mendakatiku, padahal awalnya dia sangat jauh. Bahkan tidak mengenalku. Boro-boro bisa dekat, ketemu saja sangat jarang.

Namun kebetulan, kali ini kami dipertemukan di satu acara. Kuperhatikan dia, kudekati, namun dia enggan.

Sudah sejak awal aku melihat wajahnya yang nampak tidak nyaman. Mungkin dikarenakan keberadaanku yang cukup asing baginya. Tapi bisa juga dia tidak nyaman dengan tempat yang baru dia kunjungi. Orang yang membersamainya sempat mengatakan kalau ini pertama kalinya mereka datang kesini.

Saat sedang berdua dengannya. Aku mencoba untuk mendekat. Tapi sayang, dia menjauh. Pura-pura tidak peduli dengan keberadaanku.

Sudahlah, aku juga tidak terlalu peduli. Sekalipun aku sempat tertarik dengannya. Dia sangat menggemaskan dengan pipi gembilnya. Dia sangat manis dengan kulitnya yang kecoklatan.

Kami akhirnya berdiam di tempat masing-masing. Sesekali kuperhatikan dia yang sedang menikmati video-video lucu, unboxing karakter unik. Hingga tanpa sadar aku berkomentar menunjukkan ketertarikan dengan hobbi yang sedang di lakoni.

"Ih lucu. Apa itu?"

Dengan beberapa kali respon dia akhirnya mulai menyadari keberadaanku. Hanya menyadari, tidak lebih. Namun begini saja sudah membuatku cukup senang.

"Eh ultramen" kalimat yang kulontarkan benar-benar menjadi titik balik. Dia menoleh kearahku. Entah apa yang dia pikirkan saat itu, tapi suatu perubahan benar-benar terjadi.

Seolah jarak diantara kami benar-benar hilang. Entah sejak kapan, hingga tiba-tiba dia kini berada disampingku.

Bahkan kini, dia tanpa segan menowelku. Menunjukkan ultramen yang sangat dia suka. Duduknya tidak hanya disampingku tapi sudah menempel. Seperti dua orang yang sejak dulu saling mengenal dan bercengkrama. Dua orang yang banyak menghabiskan waktu berdua.

Haha.

Kehidupan ini lucu yah. Kadangkala kita begitu cepat merasa akrab. Namun bisa juga menjadi dua orang yang tidak mengenal sama sekali. Padahal jangan ditanya sudah seberapa lama menghabiskan waktu bersama. Tapi ya begitu, seringnya satu kesalahan. Hadirnya satu masalah bisa membuat jurang panjang diantara keduanya.

Begitupun sebaliknya, satu hobbi, satu tujuan, satu kali obrolan, bisa menyatukan jembatan yang belum pernah tersambung sama sekali. Bisa menyatukan dua orang baru, yang awam akan pribadi lainnya.

Namun menariknya, begitukah islam mengatur hubungan dua individu?

Dimana bisa renggang bahkan terputus hanya dengan satu masalah klasik.

Tidak. Islam tidak semudah itu untuk memutuskan persaudaraan diantara kedua muslim. Sakin ketatnya, islam memberikan sanksi yang sangat tegas pada mereka yang ingin memutus persaudaraan.

Islam memiliki andil besar saat hubungan sesama saudara muslim yang merenggang.

Sebagaimana yang di sampaikan rasul, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Adapun rasa benci, rasa kesal yang hadir karena suatu alasan. Hendaknya datang karena perilaku saudara kita yang melanggar syariat Allah. Bukan karena semata dirinya. Namun karena perilakunya yang tidak taat pada Allah.

Begitulah indahnya islam. Alasan dia benci bukan sebab sosok, melainkan apa yang sudah diperbuat. Apakah bertentangan dengan syariat, ataukah tidak. Jika ya, maka sewajarnya benci itu hadir. Namun tidak perlu membesar sebab suatu kesalahan haruslah di ingatkan dengan dakwah islam. Sebab dakwah adalah bentuk cinta antar sesama.

Dakwah tidak dijadikan untuk menghujat. Namun memberi petunjuk. Dakwah tidak dilakukan untuk menghamiki namun menjelaskan rambu-rambu yang Allah senangi dan Allah murkai.

Sebab dakwah adalah bukti cinta. Maka dakwah tak perlu berlama-lama memgenal sosok manusia. Dakwah akan diterima bila frekuensi kita sama. Yakni, sama-sama hidup dalam harap ridho Allah.

Komentar